Langsung ke konten utama

Livi Zheng

Beberapa hari kemarin netizen ramai membicarakan Livi Zeng. Yang saya ikuti soal Livi Zheng adalah ketika pemberitaan negatif menyerbu kredibilitasnya sebagai sutradara Hollywood. Pas awal soal gembar-gembor media yang membicarakan banyak prestasi Livi saya blas nggak tahu, pokoknya tahu-tahu udah negatif aja Livi Zheng ini.

Saya pertama kali dengar nama Livi Zheng yaitu ketika melihat pembuatan film "The Santri" yang dibintangi oleh Gus Azmi, Wirda Mansur dan Veve Zulfikar. Di salah satu video pembuatan film tersebut dijelaskan bahwa ini adalah garapan seorang sutradara film Hollywood "Livi Zheng". Dalam hati saat itu, "Oh keren ya, NU bikin film dengan sutradara dari Hollywood." (Saya kira saat itu Livi bukan orang Indonesia) wkwkwkwk

Kemudian netizen di Facebook kok ramai sekali menguak sisi negatif dari Livi, lhah, memang prestasinya apa saja sih?

Saya baca sedikit berita yang ada di media, dan komentar-komentar netizen katanya apa yang menjadi prestasi Livi Zheng ini hanya demi mendongkrak popularitasnya saja, apa yang dibicarakan Livi soal Hollywood, Oscar dan prestasi perfilmannya yang lain adalah tidak benar dan netizen merasa ditipu. Kurang lebih menurut sepemahaman saya seperti itu.

Lantas saya menonton acara MetroTV yang mengundang Livi Zheng dan beberapa panelis dari sineas ternama tanah air seperti Joko Anwar, Andi Bachtiar Yusuf, dan lain-lain. Di awal acara saya agak kurang respect dengan panelis dan host nya, Livi Zheng seolah-olah disudutkan dan disidang oleh panelis. Tapi mungkin memang format acaranya seperti itu. Pasti Livi Zheng sudah dibriefing sebelum acara jika bakal ditanya ini itu. Kemudian di acara QnA bareng Deddy Corbuzier Livi bilang kalau dia saat itu juga kaget dan tidak tahu acaranya seperti apa. Kok bisa ya? Tapi ya sudahlah.

Sebagai orang yang nggak terlalu paham film, dari acara debat MetroTV saya mengambil kesimpulan bahwasanya Joko Anwar dan panelis lain tidak mempermasalahkan kualitas karya Livi Zheng, yang mereka permasalahkan adalah gembar-gembor atau framing media yang terlalu berlebihan tentang prestasi Livi Zheng. Dan juga, persepsi "sutradara lejit" menurut Livi Zheng dan Joko Anwar itu berbeda, kalau menurut Livi, sutradara lejit adalah yang filmnya sudah bisa diputar di bioskop Amerika, yang sudah eligible atau lolos administrasi masuk Oscar, filmnya sudah diputar di Disney meskipun itu diputar secara privat. Sedang sutradara lejit menurut Joko Anwar adalah ketika karyanya yang berbicara, nggak usah digembar-gemborkan siapa sutradaranya. Menurut saya seperti itu. Jadi mau disanggah seperti apapun itu, Livi Zheng ya tetap akan bilang kalau filmnya bagus karena sudah bisa diputar di bioskop Amerika dan dia memang sutradara dengan segudang prestasi. Berbeda persepsi inilah yang membuat sulit, dan membuat panelis seperti gemas dengan Livi Zheng.

Dan peran media dalam membicarakan Livi Zheng di awal terlalu mengglorifikasi prestasi Livi Zheng, sehingga persepsi masyarakat tentang Livi sudah sangat luar biasa. Seperti filmnya bisa nembus Hollywood, padahal menurut pengakuan Livi ya karena memang produksinya di USA otomatis disebut film Hollywood, dan tentang film yang masuk nominasi Oscar, padahal setelah diklarifikasi filmnya hanya eligible atau lolos administrasi untuk masuk nominasi Oscar, bukan sebagai salah satu nominasi Oscar.

Setelah media tahu beberapa fakta tentang Livi Zheng, mereka ramai memberitakan sisi negatif Livi. Bahkan mereka mulai mengungkit sisi pribadi Livi tentang orang tuanya yang menurut Livi (ketika QnA dengan Deddy C) mereka belum wawancara langsung ke Livi soal orang tuanya ini. Di sini media juga terlalu ceroboh, sehingga netizen berekspektasi terlalu tinggi pada Livi dan seketika rame membully Livi ketika sisi negatifnya dikorek.

Saya setuju dengan pendapat Deddy Corbuzier bahwa apa yang dikatakan Livi Zheng ini tidak ada yang bohong, cuma yang netizen dan sineas nggak sependapat adalah kenapa yang keluar omongannya Livi doang tapi karyanya nggak pernah terdengar?

Sebagai orang yang belum punya karya apa-apa, saya sangat menghargai dan mengapresiasi film Livi Zheng entah itu diproduksi di Hollywood, Bollywood atau di tanah air meski saya juga belum pernah melihat satupun film Livi Zheng. Masalah suka atau tidak suka itu selera, film maker tidak bisa memaksa untuk semua orang suka dan mau menonton filmnya. Jika Livi Zheng lebih banyak bacot tentang siapa dia dan apa saja prestasi yang diraihnya, wajar saja, karena dia lama tidak tinggal di tanah air dan warganet pun belum tahu siapa dia jadi dia butuh pengakuan akan itu untuk bisa dikenal masyarakat. Sudah begitu saja. Joko Anwar nggak usah ngotot gimana-gimana, lha wong mau bagaimanapun Livi Zheng-nya sudah begitu percaya diri dan dia yakin dia sutradara lejit. Sudahlah, mending Joko Anwar fokus promosi film Gundala saja agar eligible masuk Oscar.

Btw, film Gundala tayang sampai kapan? Belum sempat lihat soalnya 😁

Komentar

Postingan populer dari blog ini

angket minat membaca skripsiku

Angket Minat Membaca Siswa Kelas X MAN Temboro Magetan Pendahuluan : Assalamu’alaikum Wr. Wb. Nama : Yastin Ismityas Septiani Tujuan : Memberikan angket kepada siswa/responden untuk mengisinya sebagai bahan         penelitian Terima kasih atas partisipasinya. Petunjuk mengerjakan : 1.       Isikan nama, kelas dan nomor absensi yang telah disediakan. 2.       Ada 20 pernyataan dalam angket ini. Berilah tanda centang (√) pada salah satu pilihan yang anda anggap sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 3.       Hasil dari pengisian angket ini semata-mata untuk kepentingan penelitian dan sebagai ukuran kemajuan pendidikan di masa mendatang, dan tidak akan berpengaruh pada penilaian guru anda, serta tidak ada hubungannya dengan proses penentuan kenaikan kelas. 4.       Jika anda ingin men...

Kalah Giveaway Bikin Trauma

Ini sudah ketujuh kalinya saya menulis secara beruntun tiap hari, meski kemarin sempat libur gara-gara belum tahu mau nulis apa dan sekarang saya harus nulis 2 judul. Ada sedikit kepuasan karena bisa curhat sambil belajar nulis, tapi kadang juga malu dan khawatir. Malu karena apakah dengan ini saya sedang mengumbar beberapa aib saya untuk dibaca orang banyak, jangan-jangan tulisan saya ini tidak layak untuk dikonsumsi publik dan khawatir karena jangan-jangan ada yang beranggapan "Ah, tulisan biasa banget kayak gini kok beraninya nge- share di Facebook untuk minta dibaca orang lain." Hahaha. Pasti ada lah ya yang berpikiran seperti itu. Kemudian saya pikirkan lagi tujuan awal saya untuk aktif menulis di blog, yaitu untuk melatih kemampuan menulis serta mengusir kejenuhan karena masih berstatuskan pengangguran. Dua hal tersebut bukanlah hal yang negatif, jadi kekhawatiran dan kemaluan (eh, kok kemaluan, harusnya apa sih?) yang tadi terlintas di benak harus saya hempas jauh-...

Sahabat di Ciputat

Tetiba aku merasa begitu merindukan suasana malam di Ciputat, meski ada beberapa kenangan di sana yang tidak terlalu aku suka dan selalu ingin lupa saja. Setiap malam, kalau aku masuk kerja di shift pagi, malamnya pasti sibuk mikir "Malam ini mau makan apa ya?" Padahal pilihannya nggak banyak, cuma ada nasi goreng, pecel ayam/lele, ketoprak, nasi uduk, atau soto mie. Tidak jarang aku lebih memilih untuk tidak makan saja karena malas keluar, kecuali ada yang ngajak beli makan, baik oleh Dian (sahabat kos yang kamarnya sebelahan dengan kamarku) atau oleh Mutia (sahabat dari mulai datang di Ciputat yang rumahnya nggak jauh dari kosan ku). Baiklah, di tengah beberapa kenangan di Ciputat yang selalu ingin kulupakan, ada kenangan bersama mereka berdua yang selalu aku pertahankan dan aku kenang selamanya. Aku akan bercerita tentang mereka berdua, dimulai dari Mutia kemudian Dian. Mutia Aku mulai mengenal Mutia sejak pertama kali datang di Ciputat, dikenalkan oleh saha...