Langsung ke konten utama

Insyaallah, Semua akan Baik Baik Saja..

Alhamdulillah proses operasi kuret berjalan lancar dan tidak begitu sakit, alhamdulillah. Saya Dan suami sudah sedikit lega, rasanya sudah beda tidak seperti sebelumnya. Proses pra Dan pasca operasi membuat says sadar betul, betapa sayang Dan perhatian suami saya. Rasanya setiap apapun bentuk perhatian yang dia berikan ingin sekali memberi pelukan hangat kepadanya. 

Dari pagi, kami bersiap menuju RS untuk kuret, suami menyiapkan semuanya. Saya hanya tinggal bersih2 diri Dan makeup. Mulai dari merebus air untuk Mandi, menyiapkan sarapan, menyeteeika pakaian, menyiapkan kendaraan, menyiapkan administrasi yang diperlukan, jadi saya terima jadi semuanya. Ya Allah, rasanya terharu sekali melihat suami begitu perhatian, sayang, dan hangat seperti saat ini, meski setiap hari juga seperri itu, tapi kali ini lebih. 

Saya mencintai suami lebih dari apapun, bahkan jika ditanya apa yang membuat saya jatuh cinta dan sayang pada suami, saya sulit menjelaskan satu per satu alasannya. Karena suami begitu sempurna di mata saya. 

Di saat kami tertimpa musibah seperti ini, siapa lagi yang mau peduli dan selalu berada di garda terdepan untuk menenangkan dan menasihati saya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan kalau bukan suami saya. 

Hari ketika janin saya keluar dari rahim, saya menangis sejadi-jadinya di kamar mandi sambil memeluk erat suami. Spontan suami ikut menangis dan itu adalah kali kedua saya melihat suami saya menangis setelah ketika mengimami sholat Ied kemarin. Kami menangis berdua, menangisi kegagalan kami dalam merawat calon bayi, menangisi kecerobohan kami, dan menangisi segala kesalahan kami. 

Beberapa hari setelahnya, saya yang ketika proses pemulihan pasca keguguran belum berani turun ke bawah untuk sekadar makan, hari itu saya memberanikan diri untuk turun ke bawah dan makan di meja makan bersama suami. Memori di mana saya makan berdua ketika masih sering enek dengan bau makanan yang amis, dan juga ketika saya makan sambil ngelus-ngelus perut yang mulai buncit, juga memori ketika saya kurang sreg dengan makanan tapi saya paksa untuk makan karena saya sadar ada sel hidup di dalam rahim yang membutuhkan suplai makanan sehat dari tubuh saya, membuat saya reflek menangis saat itu. Sehingga saya mempercepat kegiatan makan saya, dan suami mulai panik, dikira saya tidak cocok dengan makanannya. 

Setelah selesai makan kami naik ke atas menuju kamar, dan saya masih belum biaa berhenti untuk menangis. Suami bertanya, apa yang menyebabkan saya menangis, dan saya pun menjelaskannya. Kemudian suami memberikan nasihatnya bahwa saya harus ikhlas menerima semuanya, bahwa saya tidak boleh sedih berlarut-larut, bahwa saya harus bersyukur diberikan kesehatan sampai sekarang, kemudian suami pun meminta maaf pada saya sambil ikutan menangis kalau belum bisa menjadi suami yang baik. 

Mendengar suami mengatakan hal itu saya menangis sejadi-jadinya, saya nggak mau suami mengatakan seperti itu. Dia sudah sangat sempurna di mata saya, dan saya sangat mencintainya. Saya bilang kepadanya untuk jangan meminta maaf lagi. Kemudian suami berpamitan intuk berangkat kerja karena sudah beberapa hari libur, tapi saya masih berat untuk sendirian di kamar. Begitu pandai suami meyakinkan dan membuat tenang, sehingga saya bisa mengizinkannya berangkat bekerja sembari tersenyum sambil ngusap air mata. 

Ini adalah momen yang tak akan peenah saya lupa, dan saya menuliskannya untuk menjadi kenang-kenangan esok hari. Semiga saya dan suami bisa saling jatuh cinta dan perhatian setiap harinya sampai kematian memisahkan kami. Dan semoga kami segeea diberikan amanah kembali untuk merawat dan membesarkan anak oleh Allah SWT. Aamiin..

Untukmu, suamiku,, i love you 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Jawa Nggak Bisa Ngomong Jawa? Apa Kata Mertua!!!

Sudah bukan hal baru lagi jika anak-anak muda jaman sekarang mulai tidak banyak yang lihai memakai bahasa Jawa yang banyak jenisnya itu. Kami, lah kok kami, saya saja lah. Saya, yang dari SD belajar Bahasa Jawa sampai Aliyah, masih saja grotal - gratul (belum lancar) jika hendak berbicara dengan orang yang lebih tua, karena secara etika ketika anak muda berbicara dengan orang yang lebih tua hendaknya menggunakan Bahasa Jawa tipe "Krama Inggil". Ya, saya katakan tipe karena Krama Inggil adalah salah satu jenis pembagian dari Bahasa Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diajak berbicara.  Untuk teman-teman yang bukan orang Jawa mungkin bingung maksudnya bagaimana. Jadi, Bahasa Jawa memiliki beberapa bahasa yang digunakan sebagai cara komunikasi sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diajak bicara. Pembagian Bahasa Jawa ada 3 macam, yaitu Boso Ngoko (biasa digunakan ketika berbicara dengan orang yang seumuran, orang tua kepada yang lebih mud...

Membersamai Anak-anak dalam Khatam al-Qur'an di Sekolah

 Biasanya agenda khataman di sekolah bertepatan ketika peringatan Nuzulul Qur'an. Kali ini tidak. Jum'at, 15 Desember kemarin sekolah kami mengadakan kegiatan Gema Khatam Al-Qur'an sesuai dengan edaran dari Kanwil Kemenag Prov. Jatim.  Edaran kami terima pada hari Selasa melalui grup Whatsapp MGMP PAI Kabupaten. Karena cukup mendadak, saya lagsung koordinasi dengan Pak Sutono, guru PAI yang lebih senior untuk teknis pelaksanaan kegiatan ini. Alhamdulillah semua persiapan dimudahkan, sehari proposal yang diajukan langsung ACC dari pihak sekolah.  Berkat bantuan dari wakasek bidang kesiswaan, OSIS, dan Rohis, alhamdulillah kegiatan bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Mulai tepat waktu di jam 08.00 WIB dan selesai kurang lebih pukul 09.30 WIB. Lega rasanya. Semoga lain waktu jika diamanahi mengadakan kegiatan serupa bisa lebih maksimal dan berjalan lancar.  Oiya, karena kemarin ada tugas untuk upload video kegiatan Khataman pada Kanwil Provinsi, ini link Youtube keg...

Jendela, Aku Rindu…

Jendela Magetan adalah komunitas kecil yang aku dan teman-temanku dirikan sebagai wadah untuk berbagi dalam hal membaca buku. Rasanya mau cerita agak Panjang. Tapi takut yang membaca jadi bosen. Oke lah, diringkas saja. Tahun 2017 aku merantau ke Ciputat karena berbagai macam factor, mulai dari ketidakjelasan akan masa depan, juga untuk menghindari beberapa omongan miring orang sekitar tentang mahasiswa yang lulus kuliah kok nggak segera dapat pekerjaan mapan. Kalau istilah remaja sekarang, waktu itu aku mengalami yang Namanya “Quarter Life Crisis”. Dengan merantau, aku ada di lingkungan yang baru, pengalaman baru, tentunya banyak hal baru yang didapat. Di Ciputat aku berteman dengan Mutia dan Dian yang kebetulan sangat sefrekuensi denganku. Kami sama-sama suka buku, diskusi ringan, dan suka berkunjung ke tempat-tempat yang asik untuk baca. Kemudian kami mengoleksi beberapa buku Bersama. Tak hanya Mutia dan Dian, aku bertemu dengan Mbak Ria, dia juga sangat nyaman untuk diajak disk...