Langsung ke konten utama

Postingan

Penting Nggak Penting, Baca Aja Dulu

Penting Nggak Penting 😁 Seperti biasanya, setiap seminggu sekali aku menyempatkan untuk mengosongkan 1 jam waktu luangku guna mencuci beberapa tumpukan pakaian kotorku. Kali ini lumayan banyak. Entah kenapa, apa karena curah hujan yang semakin tinggi sehingga aku lebih sering berganti pakaian. Entahlah, hanya aku dan hatiku yang tahu. Wkwkwk.. Dengan malas ku bawa sekeranjang penuh baju kotor tersebut ke tempat cuci manual di samping kamar mandi. Hari sudah lumayan siang, hingga udara juga semakin panas. Terik matahari makin menyengat, untung tempat mencuci teduh, adem, dan sejuk seperti senyuman Mas itu. Hahaha.. Tak perlu direndam, karena akan memakan waktu lebih lama jika harus direndam sedang aku khawatir jika tak kebagian panas matahari siang ini. Ku tuang 1,5 sendok detergen hingga busanya melimpah.  Di tengah asiknya mengucek pakaian, tiba-tiba aku teringat akan trik mencuci dengan rapi ala sahabat KPM ketika kuliah. Jadi ketika tugas KPM di salah satu des...

Sudah Siap, dong!

Beberapa hari yang lalu dan sampai sekarang Ibuk memandatkan urusan dapur kepada saya, anak perempuan satu-satunya. Mungkin Ibuk sedikit khawatir, karena anak perempuan di rumah kok nggak pernah masak, mentok cuma bantu iris-iris bumbu dan cuci piring, takutnya saya nggak bisa masak. Hingga muncullah ide penyerahan mandat tersebut.  Bukan apa-apa, kalau urusan masak memasak insyaallah bisa lah, tapi kalau harus ke pasar memang yang saya beli harganya beda dengan Ibuk, lebih mahal tentunya. Karena kalau urusan negosiasi harga sayur saya tidak expert, bahkan antre di tukang sayurnya pun sering disrobot mamah-mamah milenials. Itu juga membuat nyali saya ciut kalau harus beli sayur di pasar lebih dulu. Wkwkwk Hari pertama saya masak sayur tahu bumbu kuning gitu, namanya apa lupa, pokoknya bersantan. Ketika jam makan siang tiba (sok sok an makan siang,hehe) Ibuk Bapak makan dengan lahap. Dalam hati, "Wah pasti ini enak masakanku." Kemudian inisiatif nanya ke Ibuk.  ...

Untuk yang Sedang Ulang Tahun Hari Ini

Penghujung Februari tahun ini, tanggal 28, adalah hari spesial untuk beberapa orang dan menjadi hari biasa bagi orang lainnya. Temanku, sahabatku, mengklaim bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Siapa dia? Ya, benar sekali, dia adalah Mirza Ayu Wulandari. Tahin ini dia genap berusia 26 tahun. Wahahaha... Tua sekali... Asal kamu tahu, Mblong (panggilan sayang ke dia), tahun ini adalah tahun terakhir kalinya kamu merayakan ulang tahun hanya berdua dengan suamimu. Karena tahun depan, akan ada sosok anak kecil imut-imut yang menggemashkan di gendonganmu yang juga ikut merayakan ulang tahun ibunya ini. Ingat itu. Saranku, buatlah momen ulang tahun hari ini sespesial mungkin, dengan mengundang teman-temanmu makan ayam panggang misalnya. Hahahhaha.. Mirza sudah memberi pengaruh besar dalam hidupku, perjalanan spiritualku, perjalanan dari semester 1 sampai lulus dan bekerja sampai sekarang. Pengaruh paling dominan yang sudah dia sumbangkan yaitu ajakan untuk bersikap humble da...

Kalah Giveaway Bikin Trauma

Ini sudah ketujuh kalinya saya menulis secara beruntun tiap hari, meski kemarin sempat libur gara-gara belum tahu mau nulis apa dan sekarang saya harus nulis 2 judul. Ada sedikit kepuasan karena bisa curhat sambil belajar nulis, tapi kadang juga malu dan khawatir. Malu karena apakah dengan ini saya sedang mengumbar beberapa aib saya untuk dibaca orang banyak, jangan-jangan tulisan saya ini tidak layak untuk dikonsumsi publik dan khawatir karena jangan-jangan ada yang beranggapan "Ah, tulisan biasa banget kayak gini kok beraninya nge- share di Facebook untuk minta dibaca orang lain." Hahaha. Pasti ada lah ya yang berpikiran seperti itu. Kemudian saya pikirkan lagi tujuan awal saya untuk aktif menulis di blog, yaitu untuk melatih kemampuan menulis serta mengusir kejenuhan karena masih berstatuskan pengangguran. Dua hal tersebut bukanlah hal yang negatif, jadi kekhawatiran dan kemaluan (eh, kok kemaluan, harusnya apa sih?) yang tadi terlintas di benak harus saya hempas jauh-...

Senin

Aku tak pernah tahu kapan sakit datang menggerogoti tubuh sehatku. Aku tak pernah tahu kapan ajal tiba-tiba datang merenggut nyawa dari jasadku. Aku tak pernah tahu kapan air mata berderai mengiringi musibah yang menimpaku. Yang aku tahu, Saat ini tubuhku sehat, nyawa masih melekat, dan senyum masih tersemat. Tuhan, Semoga hamba selalu ingat, Bahwa esok adalah misteri yang belum terungkap. Dunia hanya sementara dan akhirat adalah selamanya. #30haribercerita #harike-6

Kegelisahan Sesosok Pengangguran

Namanya manusia memang tak pernah merasa cukup dengan apa yang dilakoninya, punya kesibukan kerja katanya capek, bosan, eh giliran diberi kesempatan menganggur ngeluh bosanlah, nggak ada duitlah, stresslah. Lantas maunya apa? Masih dalam masa berjuang mbok ya jangan suka sambat, ntar kalau sudah punya bisnis setingkat Unicorn yang valuasinya 1 miliar boleh deh leha-leha sambil ongkang-ongkang kaki. Kalau masih proses merintis karir demi memikat calon mertua ya harus semangat kurangi sambat dan jangan tinggalkan sholat. Ini pengalaman pribadi, bukan hasil observasi dari pengalaman orang lain yaa...  Semenjak resign dari tempat kerja sebelumnya, terhitung non aktif mulai tanggal 20 November 2018, sampai sekarang saya masih menganggur, meski menganggur dalam kondisi bahagia dan berlimpah rasa syukur. Tapi tak menutup kemungkinan bahwasanya saya rentan mengalami stress dan kegalauan berkepanjangan. Jika dihitung, saya sudah 3 bulan menjadi sosok pengangguran, dan itu bukan w...

Bertemu Keluarga Calon Mertua Teman

Sebagai wanita yang masih belum ada kesibukan formal yang terjadwal dan tiap hari hanya sibuk ngatur jam tidur, saya sering diajak teman keluar, entah itu untuk kepentingan urgen atau hanya sekadar cari angin atau solusi. Ada yang mengajak beli mie ayam, ngajak main ke rumahnya, ke kantor Kemenag, ke tempat kerja, ke kampus, dan masih banyak lagi. Pernah suatu ketika saya diajak teman untuk berkunjung ke rumah calon mertuanya, iya masih calon karena saat itu hari pernikahannya kurang beberapa minggu lagi. Saya shock kenapa harus saya yang mengantarnya ke rumah camer, meski saya sudah tahu alasan sebenarnya, tapi ya kaget aja. Secara dia sebaya denga saya, bisa dibayangkan nanti kalau saya ikut ditanya macem-macem di sana. Tapi karena saya dasarnya doyan maen, yaudah saya "iya" in aja. Kami berangkat ke tempat tujuan habis dhuhur, kondisi agak gerimis dan di beberapa lokasi kami harus kehujanan. Oke, perjalanan menemui camer memang perlu pengorbanan, jangankan cuma gerimi...