Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Dipermalukan Guruku

Dengan perasaan sangat malu dan kikuk, Heru memberanikan diri untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang menurutnya akan sangat mengerikan. Langkah kakinya berat, seperti enggan menuju ke sana tapi dipaksanya. Dia rapikan seragamnya sambil merapikan sisiran rambutnya. Matanya tertuju pada dua pintu yang terbuka lebar, dilihatnya dari jauh, sepertinya tak banyak orang yang di dalam ruangan tersebut. Keberaniannya timbul perlahan. Dia melangkah dengan lebih percaya diri.  "Assalamu'alaikum, permisi, Bu." Ucapnya di tepi pintu yang tak jauh dari tempat duduk bapak ibu guru. "Wa'alaikumsalam, iya, Le. Mau cari siapa?" Tanya salah seorang ibu guru yang duduk tepat di samping pintu.  Heru melihat seisi ruang yang ternyata masih banyak ibu guru di dalamnya, seketika rasa malu dan canggungnya muncul kembali. Dia khawatir jika apa yang dipikirkan sebelumnya terjadi. Saking canggungnya, dia agak geligisan dan lupa nama ibu guru yang dicarinya.  "C...

Kamu

Sejak pertama mengenalnya Aku tahu ada sesuatu luar biasa tentangnya Tentang senyumnya yang dibuat biasa tapi selalu mempesona Tentang tawanya yang lantang tapi selalu lekat dalam ingatan Sederhana menjadi kata yang dipujanya Tak pernah ingin tampil mewah meski dia bisa Apa adanya adalah cara hidupnya Meski tak pernah sekalipun dia mengatakannya Aku jatuh cinta Akan caranya berbicara tentang apa yang dia suka Aku jatuh cinta Akan caranya menertawakan ceritaku saat bersama Aku jatuh cinta Akan caranya memberikan edukasi baru untukku Aku jatuh cinta Akan kesederhanaannya Aku menunggu Saat dimana kita bisa duduk bersama Saling berbagi cerita tentang apa yang kita suka Sambil tertawa kau lempar cerita jenaka Aku menunggu Saat dimana dia mengerti apa inginku Dan berani untuk sedikit melihat ke arahku Yang selalu mengaguminya, meski sangat malu

Kopi yang Dipanasi

Beberapa hari terakhir musala yang terletak di pojok desa tersebut telihat sepi. Pak Salim selaku imam musala terlihat duduk santai di depan rumah yang kebetulan di samping musala. Dia pandangi musala yang baru selesai dibangun 2 bulan yang lalu itu, masih terlihat kokoh, bersih, tapi masih sepi jamaah. Dia sruput kopi hitam tawar yang dibuatkan istrinya sambil menghela nafas. "Apa yang membuat warga sekitar enggan salat berjamaah di musala?" gumamnya lirih.  Tak lama istrinya pun menghampiri, "Pak, nggremeng apa, to ? Apa kopinya kurang manis?" "Lha kan memang kopi tawar, Dik." Jawab Pak Salim sambil noleh ke istrinya. "Oiya. Hehe. Trus barusan ngomong apa? Wong nggak ada orang kok nggremeng sendiri." "Tenang, Dik. Suamimu ini belum stress, alias masih waras. Gini lho, musala ini sudah 2 bulan berdiri, kondisinya bersih, ada kipas angin, dekat pemukiman warga, tapi jamaahnya kok ndak ada peningkatan ya?" "...

Bersyukur, Optimalisasi Apa yang Sudah Diberikan

Saya adalah orang yang kerjaannya suka memberi penilaian kepada postingan orang-orang di media sosial, tapi penilaiannya cukup dipendam sendiri, tidak dipublikasikan. Kadang saya merasa orang yang suka menilai hidup orang lain (postingan di medsos kan juga termasuk rutinitas orang) pasti merasa dirinya sudah baik, hingga hidup orang lain yang tak seperti hidupnya dianggap belum baik maka dikritisi olehnya. Atau bisa juga karena merasa hidupnya masih belum baik, hingga selalu memberikan penilaian pada hidup orang lain guna memperbaiki hidupnya agar bisa seperti yang lain.  Kalau saya pribadi, kadang diri ini diselimuti rasa insecure (tidak aman) sehingga selalu memandang rendah diri sendiri, tak bisa seperti yang lain. Kalau sedang begitu tak jarang saya banyak menyesal atas masa lalu saya, kenapa dulu tidak saya gunakan masa studi dengan sebaik-baiknya.  Tak jarang pula saya diselimuti rasa 'ujub (bangga diri) yang sangat berlebihan, itu ketika saya memandang kemampu...

Penting Nggak Penting, Baca Aja Dulu

Penting Nggak Penting 😁 Seperti biasanya, setiap seminggu sekali aku menyempatkan untuk mengosongkan 1 jam waktu luangku guna mencuci beberapa tumpukan pakaian kotorku. Kali ini lumayan banyak. Entah kenapa, apa karena curah hujan yang semakin tinggi sehingga aku lebih sering berganti pakaian. Entahlah, hanya aku dan hatiku yang tahu. Wkwkwk.. Dengan malas ku bawa sekeranjang penuh baju kotor tersebut ke tempat cuci manual di samping kamar mandi. Hari sudah lumayan siang, hingga udara juga semakin panas. Terik matahari makin menyengat, untung tempat mencuci teduh, adem, dan sejuk seperti senyuman Mas itu. Hahaha.. Tak perlu direndam, karena akan memakan waktu lebih lama jika harus direndam sedang aku khawatir jika tak kebagian panas matahari siang ini. Ku tuang 1,5 sendok detergen hingga busanya melimpah.  Di tengah asiknya mengucek pakaian, tiba-tiba aku teringat akan trik mencuci dengan rapi ala sahabat KPM ketika kuliah. Jadi ketika tugas KPM di salah satu des...

Sudah Siap, dong!

Beberapa hari yang lalu dan sampai sekarang Ibuk memandatkan urusan dapur kepada saya, anak perempuan satu-satunya. Mungkin Ibuk sedikit khawatir, karena anak perempuan di rumah kok nggak pernah masak, mentok cuma bantu iris-iris bumbu dan cuci piring, takutnya saya nggak bisa masak. Hingga muncullah ide penyerahan mandat tersebut.  Bukan apa-apa, kalau urusan masak memasak insyaallah bisa lah, tapi kalau harus ke pasar memang yang saya beli harganya beda dengan Ibuk, lebih mahal tentunya. Karena kalau urusan negosiasi harga sayur saya tidak expert, bahkan antre di tukang sayurnya pun sering disrobot mamah-mamah milenials. Itu juga membuat nyali saya ciut kalau harus beli sayur di pasar lebih dulu. Wkwkwk Hari pertama saya masak sayur tahu bumbu kuning gitu, namanya apa lupa, pokoknya bersantan. Ketika jam makan siang tiba (sok sok an makan siang,hehe) Ibuk Bapak makan dengan lahap. Dalam hati, "Wah pasti ini enak masakanku." Kemudian inisiatif nanya ke Ibuk.  ...

Untuk yang Sedang Ulang Tahun Hari Ini

Penghujung Februari tahun ini, tanggal 28, adalah hari spesial untuk beberapa orang dan menjadi hari biasa bagi orang lainnya. Temanku, sahabatku, mengklaim bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Siapa dia? Ya, benar sekali, dia adalah Mirza Ayu Wulandari. Tahin ini dia genap berusia 26 tahun. Wahahaha... Tua sekali... Asal kamu tahu, Mblong (panggilan sayang ke dia), tahun ini adalah tahun terakhir kalinya kamu merayakan ulang tahun hanya berdua dengan suamimu. Karena tahun depan, akan ada sosok anak kecil imut-imut yang menggemashkan di gendonganmu yang juga ikut merayakan ulang tahun ibunya ini. Ingat itu. Saranku, buatlah momen ulang tahun hari ini sespesial mungkin, dengan mengundang teman-temanmu makan ayam panggang misalnya. Hahahhaha.. Mirza sudah memberi pengaruh besar dalam hidupku, perjalanan spiritualku, perjalanan dari semester 1 sampai lulus dan bekerja sampai sekarang. Pengaruh paling dominan yang sudah dia sumbangkan yaitu ajakan untuk bersikap humble da...