Langsung ke konten utama

Surat Kecil untuk Mbak Rina

Sebelumnya ini sudah saya posting di blog saya satunya tanggal 27 September 2017.


Kenapa ini kok dinamai surat kecil, bukan surat besar? Yaaa karena yang manulis aku, lain cerita kalau yang nulis adalah si Mirza. Pasti judulnya Surat besar utuk Mbak Rina. Hahhaha

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh….

Dear kancaku, Mbak Rina di bumi Lampung sana….

Pasti sekarang sampean sudah nggak kesepian lagi Mbak, karena sudah ada Mamas tercinta di samping Mbak Rina ….hihihi so sweet :D

Pertama-tama, aku mau mengucapkan “SELAMAT MENEMPUH HIDUP BERPASANGAN DENGAN SUAMI”, karena di tanggal 17 September kemarin sampean sudah SAH menjadi istri dari Mas Nata (semoga nama nya benar, karena belum sampean kenalne aku lho Mbak). Itu artinya, sampean sekarang sedang memasuki babagan baru di hidup sampean Mbak, sebagai istri, pendamping hidup, pasangan, teman di ranjang (wkwkwk), mantan pacar yang jadi istri, dan sebagai garwa atau sigaring nyawa kalau dalam bahasa Jawa. Di surat kecil ini, aku nggak akan menasehati sampean tentang bagaimana menjadi istri yang baik, sholeha, taat pada suami, atau istri yang anggun nan romantis ketika berduaan sama suami sampean, karena aku tahu Mbak, sampean sudah lebih jago dari aku, buktinya sampean sudah laku duluan ketimbang aku, dan katanya sampean sudah khatam secara jayyid jiddan ngaji kitab Quratul ‘Uyun, dan aku sedih kenapa nggak sampean ajari aku ini tentang kitab itu Mbak??? Padahal kata sampean, ilmu itu kalau nggak diamalkan akan percuma, yang sampean amalkan ke aku kok cuma ilmu kebatinan ae to Mbak, ilmu Quratul ‘Uyun nya blass nggak diamalkan, Hahaha

Di surat kecil ini Mbak, aku mau cerita sedikit tentang sampean. Semoga surat kecil ku ini menjadi penghibur bukan perusuh di tengah romantisnya malam pertama sampean. 

Sampean itu teman ku yang sesuatu banget lho Mbak, dan aku kemarin ketika hari pernikahan e sampean jan gelisah. Gelisah karena nggak bisa hadir dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sampean duduk berdua di pelaminan. Aku mikir, Mbak Rina malu nggak ya di tonton banyak tamu, capek nggak ya harus pake make up tebel, cengingisan nggak ya  pas difoto cameramen?? Itu cukup bikin aku gelisah Mbak, asal sampean tahu aja. Apalagi gelisah ketika mikir, “Mbak Rina sudah nikah, itu artinya teman single ku sudah berkurang lagi satu. Harap-harap cemas ini.” Doakan aku ya Mbak pengantin baru, segera menyusul ke pelaminan juga, kalau bisa secepatnya, biar segera menyamai status sampean. Wkwkwk….

Aku masih ingat sampean dulu kalau baca doa ta’awudz, lieeebaaayyyy…. Pas bagian huruf syin nya bibir sampean monyong 5 cm dan suaranya tebal sekali. …………Himinassssssssyyyyyyyyyy….. kalau ditulis huruf mungkin begitu Mbak. Hahhaa

Aku juga ingat foto-foto gokil sampean Mbak, aku masih punya semua bukti kegilaan sampean. Apa ini semua harus aku kasih tau Mas Nata biar waspada ke sampean Mbak??? Apa malah tambah sayang Mas Nata ke sampean setelah mengetahui itu semua??? Wallahu a'lam...

Nanti akan ada lampiran poto-poto gila sampean Mbak, tenang. Akan aku ingatkan sampean ke masa-masa ceria sampean saat itu. Hahahha  

Dan juga, sampean itu teman paling ngerteni Mbak. Ngerteni ketika temannya panas-panasan datang ke rumah langsung dibuatkan Es Marimas, tak lama kemudian Mbok Dhe nya Mbak Rina mengeluarkan kudapan gorengan yang mak nyuussss banget di mulut. Dan dengan tak tahu diri, si teman yang datang langsung makan dengan lahap nya gorengan tersebut. Bahkan tak jarag juga diajak sarapan nasi pecel yang muantab. Aduh jadi lapar :D

Aduh Mbak, aku sediiihhhh sampean udah nggak di Setren lagi. 

Yang nggak kalah gokil itu Mbak, pas ke Kediri 2 tahun lalu kalau nggak salah. Pertama kali ke Kediri aku, sampean ngantar adik e sampean. Muter-muter Kediri panas panas nyari jalur ke Pare, dan akhirnya ketemu juga. Kemudian ke pesantrennya, eh lha kok papasan sama Pak Yai. Dan bikin malu ketika kita pakai celana ke Pesantren, Pak Yai nya pun heran heran ilfil ekspresinya. Hahahha….memalukan sekaliiiiii……

Dan kunjungan ke Kediri yang kedua di tahun 2016, itu kita berangkat berdua pakai motor sapean dengan tujuan mengunjungi adek sampean di pesantren. Kita sempet foto-foto banyak di Monumen Gumul Pare dan aku masih menyimpan buanyak fotonya, nanti juga akan ada di lampiran. Hahahha…. Nah pas perjalanan pulang, aku masih ingat pas di daerah Madiun aku sempet curhat ke sampean tentang jodoh. Kalau nggak salah aku biang begini lah kurang lebih, “Aku galau Mbak sampai sekarang jodohku belum jelas. Sementara orangtua sering nanya kapan nikah, karena temen-temen yang lain akan nikah dan sudah nikah.” Dan itu sampean balas begini, “Kalau aku nggak mikir hal-hal seperti itu Tin, cuek aja. Nanti kalau sudah saatnya jodoh juga akan datang. Nggak usah terlau dipikir omongan orang, tenang aja. Aku ae santai kok.” Kurang lebih begitu sampan jawabnya, di situ saya tahu karakter sampean yang tak pernah ambil pusing hal hal sepele kayak gitu, tapi nggak tau kalau dalam hati sampean mungkin sering mbatin. Hehehe

Mbak Rina, lebaran kemarin aku suedih banget nggak bisa berkunjung ke rumah sampean Mbak. Serius. Kalau boleh, aku minta diputar ulang lebaran tahun kemarin. Gara-gara aku nggak ada sinyal di rumah, akses komunikasi sama sampean juga terbatas, waktu mudikku yang terbatas, akhirnya nggak sempet silaturahmi ke rumah sampean. Padahal aku tahu kalau kemarin ke rumah sampean, itu akan jadi pertemuan terakhir ku sama sampean sebelum balik ke Lampung dan menikah. Nyesel kan sekarang…..emang penyesalan selalu datang di akhir. Ngendikane Mbak Rina. 

Sampai sini aja Mbak surat kecilku,hihihi

Intinya,,, aku kangeeeennnnn bangeetttt

Semoga malam pertama sukses yah :D

Daan cepet susul Yuyun, udah gede perutnya Mbak. 

Miss you penganten baru 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Dapat salam dari Bu Srikatun Mbak ,,, ahahahhaha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Jawa Nggak Bisa Ngomong Jawa? Apa Kata Mertua!!!

Sudah bukan hal baru lagi jika anak-anak muda jaman sekarang mulai tidak banyak yang lihai memakai bahasa Jawa yang banyak jenisnya itu. Kami, lah kok kami, saya saja lah. Saya, yang dari SD belajar Bahasa Jawa sampai Aliyah, masih saja grotal - gratul (belum lancar) jika hendak berbicara dengan orang yang lebih tua, karena secara etika ketika anak muda berbicara dengan orang yang lebih tua hendaknya menggunakan Bahasa Jawa tipe "Krama Inggil". Ya, saya katakan tipe karena Krama Inggil adalah salah satu jenis pembagian dari Bahasa Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diajak berbicara.  Untuk teman-teman yang bukan orang Jawa mungkin bingung maksudnya bagaimana. Jadi, Bahasa Jawa memiliki beberapa bahasa yang digunakan sebagai cara komunikasi sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diajak bicara. Pembagian Bahasa Jawa ada 3 macam, yaitu Boso Ngoko (biasa digunakan ketika berbicara dengan orang yang seumuran, orang tua kepada yang lebih mud...

Membersamai Anak-anak dalam Khatam al-Qur'an di Sekolah

 Biasanya agenda khataman di sekolah bertepatan ketika peringatan Nuzulul Qur'an. Kali ini tidak. Jum'at, 15 Desember kemarin sekolah kami mengadakan kegiatan Gema Khatam Al-Qur'an sesuai dengan edaran dari Kanwil Kemenag Prov. Jatim.  Edaran kami terima pada hari Selasa melalui grup Whatsapp MGMP PAI Kabupaten. Karena cukup mendadak, saya lagsung koordinasi dengan Pak Sutono, guru PAI yang lebih senior untuk teknis pelaksanaan kegiatan ini. Alhamdulillah semua persiapan dimudahkan, sehari proposal yang diajukan langsung ACC dari pihak sekolah.  Berkat bantuan dari wakasek bidang kesiswaan, OSIS, dan Rohis, alhamdulillah kegiatan bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Mulai tepat waktu di jam 08.00 WIB dan selesai kurang lebih pukul 09.30 WIB. Lega rasanya. Semoga lain waktu jika diamanahi mengadakan kegiatan serupa bisa lebih maksimal dan berjalan lancar.  Oiya, karena kemarin ada tugas untuk upload video kegiatan Khataman pada Kanwil Provinsi, ini link Youtube keg...

Jendela, Aku Rindu…

Jendela Magetan adalah komunitas kecil yang aku dan teman-temanku dirikan sebagai wadah untuk berbagi dalam hal membaca buku. Rasanya mau cerita agak Panjang. Tapi takut yang membaca jadi bosen. Oke lah, diringkas saja. Tahun 2017 aku merantau ke Ciputat karena berbagai macam factor, mulai dari ketidakjelasan akan masa depan, juga untuk menghindari beberapa omongan miring orang sekitar tentang mahasiswa yang lulus kuliah kok nggak segera dapat pekerjaan mapan. Kalau istilah remaja sekarang, waktu itu aku mengalami yang Namanya “Quarter Life Crisis”. Dengan merantau, aku ada di lingkungan yang baru, pengalaman baru, tentunya banyak hal baru yang didapat. Di Ciputat aku berteman dengan Mutia dan Dian yang kebetulan sangat sefrekuensi denganku. Kami sama-sama suka buku, diskusi ringan, dan suka berkunjung ke tempat-tempat yang asik untuk baca. Kemudian kami mengoleksi beberapa buku Bersama. Tak hanya Mutia dan Dian, aku bertemu dengan Mbak Ria, dia juga sangat nyaman untuk diajak disk...