Langsung ke konten utama

Postingan

Insyaallah, Semua akan Baik Baik Saja..

Alhamdulillah proses operasi kuret berjalan lancar dan tidak begitu sakit, alhamdulillah. Saya Dan suami sudah sedikit lega, rasanya sudah beda tidak seperti sebelumnya. Proses pra Dan pasca operasi membuat says sadar betul, betapa sayang Dan perhatian suami saya. Rasanya setiap apapun bentuk perhatian yang dia berikan ingin sekali memberi pelukan hangat kepadanya.  Dari pagi, kami bersiap menuju RS untuk kuret, suami menyiapkan semuanya. Saya hanya tinggal bersih2 diri Dan makeup. Mulai dari merebus air untuk Mandi, menyiapkan sarapan, menyeteeika pakaian, menyiapkan kendaraan, menyiapkan administrasi yang diperlukan, jadi saya terima jadi semuanya. Ya Allah, rasanya terharu sekali melihat suami begitu perhatian, sayang, dan hangat seperti saat ini, meski setiap hari juga seperri itu, tapi kali ini lebih.  Saya mencintai suami lebih dari apapun, bahkan jika ditanya apa yang membuat saya jatuh cinta dan sayang pada suami, saya sulit menjelaskan satu per satu alasannya...

Egoku

Menunggu kabar darimu adalah rutinitasku Mengingatkanmu adalah bentuk kepedulianku Memanggilmu mesra adalah bukti sayangku Mengiyakan nasihatmu adalah kebutuhanku Lelahmu menjadi khawatirku Istirahatmu membosankan bagiku Bicara denganmu menjadi nafas tubuhku Jam tidur begitu mengganggu pikirku Mengapa? Karena aku hanya mau kamu Karena aku membutuhkanmu Karena kamu separuh dari diriku Karena aku inginkanmu Setiap hari egoku makin menjadi Menginginkan hadirmu di sisi tanpa hitungan durasi Aktualisasi, habituasi, aku muak dengan semua ini Tapi kamu bilang, semua harus selesai demi masa depan kita nanti

Inginku

Menunggu kabar darimu adalah rutinitasku Mengingatkanmu adalah bentuk kepedulianku Memanggilmu mesra adalah bukti sayangku Mengiyakan nasihatmu adalah kebutuhanku Lelahmu menjadi khawatirku Istirahatmu membosankan bagiku Bicara denganmu menjadi nafas tubuhku Jam tidur begitu mengganggu pikirku Mengapa? Karena aku hanya mau kamu Karena aku membutuhkanmu Karena kamu separuh dari diriku Karena aku inginkanmu

Mas

Mas, Terima kasih sudah membuatku nyaman dan sayang Perhatian dan kasih sayang yang selama ini hanya kudapat dari orang tua Kini kudapat sepenuhnya dari laki-laki penyayang seperti panjenengan Meski baru hitungan bulan kita saling mengenal Mas, Jadikan aku satu-satunya wanita yang pantas kau cemburui Jadikan aku wanita pertama yang mendengar segala keluh kesahmu Biar aku tahu, aku adalah penting dalam hidupmu Biar aku tahu, aku adalah penghuni singgasana hatimu Mas, Mungkin aku terlalu berlebihan Tapi katamu jaim adalah sesuatu yang harus dibuang Jujur, hanya denganmu aku nyaman berkata apapun Bahkan tentang perasaan yang dari dulu sangat pantang kunyatakan pada siapapun Mas, Katakan padaku seperti apa isi hatimu Katakan padaku bagaimana hari-harimu denganku Katakan padaku apa arti aku di hidupmu Katakan padaku bahwa aku satu-satunya yang kau mau

Menjadi Kuat di Rumah Sendiri dan Mendadak Lemah di Luar Rumah, Aku Banget itu!

Setiap manusia yang terlahir di dunia yang indah ini pasti membutuhkan eksistensi dirinya untuk bisa bersosialisasi dengan mudah pada sesama manusia yang lainnya. Karena eksistensi diri merupakan sebuah syarat seseorang bisa dihargai, dihormati, disegani, dan dianggap ada. Lantas bagaimana jika seseorang sudah merasa eksis di lingkungannya, kemudian mendadak tak ada apa-apanya ketika sudah berbaur dengan orang yang semuanya baru, lingkungan baru, suasana baru, dan tugas baru? Bukankah sebelumnya dia sudah menjadi sosok luar biasa yang keberadaannya bisa dianggap penting oleh orang lain, tapi begitu nyemplung di lingkungan baru dia menjadi bukan siapa-siapa, bahkan untuk bisa dianggap ada, dilihat orang lain saja tidak. Ini adalah masalah besar bagi saya pribadi tentunya, dan saya tidak yakin akan banyak orang yang mengalami hal semacam ini. Bersikap tidak mau berbaur dan merasa kurang percaya diri dengan kemampuan adaptasi diri kita mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Atau bis...

Livi Zheng

Beberapa hari kemarin netizen ramai membicarakan Livi Zeng. Yang saya ikuti soal Livi Zheng adalah ketika pemberitaan negatif menyerbu kredibilitasnya sebagai sutradara Hollywood. Pas awal soal gembar-gembor media yang membicarakan banyak prestasi Livi saya blas nggak tahu, pokoknya tahu-tahu udah negatif aja Livi Zheng ini. Saya pertama kali dengar nama Livi Zheng yaitu ketika melihat pembuatan film "The Santri" yang dibintangi oleh Gus Azmi, Wirda Mansur dan Veve Zulfikar. Di salah satu video pembuatan film tersebut dijelaskan bahwa ini adalah garapan seorang sutradara film Hollywood "Livi Zheng". Dalam hati saat itu, "Oh keren ya, NU bikin film dengan sutradara dari Hollywood." (Saya kira saat itu Livi bukan orang Indonesia) wkwkwkwk Kemudian netizen di Facebook kok ramai sekali menguak sisi negatif dari Livi, lhah, memang prestasinya apa saja sih? Saya baca sedikit berita yang ada di media, dan komentar-komentar netizen katanya apa yang...

Review Film Dua Garis Biru

Jujur saja ya, saya belum pengalaman menggunakan tespack dan kebetulan juga belum belajar tentang itu. Jadi ketika saya dengar judul “Dua Garis Biru” pikir saya ya memang itu mengisyaratkan kalau garis biru adalah pertanda positif hamil, ternyata kata seorang teman bukakankah harusnya dua garis merah ya? Tahu ah, yang penting nonton filmnya dulu. Setelah itu baru belajar tentang tespack. Wkwkwk.. Motivasi awal nonton “Dua Garis Biru” karena lihat postingan Koh Ernest di IG-nya untuk nonton film ini katanya keren banget, Pak Menteri Pendidikan harus nonton, anak dan orang tua harus nonton karena tentang well sex education. Sebagai anak yang pernah SMA, penasaran dong tentunya, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke bioskop ditemani seorang teman di tanggal 12 Juli 2019. Harga tiket nontonnya Rp.25.000,-, nggak mahal, yang mahal adalah pop cornnya, Rp.50.000,-. Penonton film ini didominasi anak remaja SMP-SMA yang masing-masing bersama pasangannya (pacar). Lho kok bisa tahu kalau...